(Heart Atack)
.
.
Suatu malam, Kyungsoo bermimpi.Berdiri di antara petak-petak rel kereta api, membiarkan sol sepatunya bergesek langsung dengan batu kerikil yang tak terhitung jumlahnya. Kedua lengan terlentang, tubuh berdiri tegak, hingga keseimbangan tubuhnya sesuai dengan gravitasi bumi. Kyungsoo bisa merasakan tubuhnya terbakar, karena sinar matahari—tentunya. Yang menggantung tepat di atas kepalanya.
Lalu, jauh di depan dari pijakannya sendiri, Kim Jongin berdiri jauh—sangat jauh—darinya, tetapi Kyungsoo tetap bisa melihatnya. Meski nyaris setitik kecil bagai bayang-bayang.
Kyungsoo tersenyum, kakinya hampir bergerak untuk menyusul Jongin begitu satu kilasan cepat memenuhi penglihatannya. Membuatnya terbelalak.
Kim Jongin, bagaimana ketika tubuh tingginya terhantam benda yang keras; berbahan besi. Bunyi bising dan mengeluarkan asap tebal merusak ozon. Sampai ia melihat Jongin terlempar, terpelanting, terhempas, tergilas, dan berputar dalam irama acak yang bergesekan dengan roda-roda besar. Berselisih dengan besi rel-relnya.
Kyungsoo merasakan sesak di dadanya. Ia tak bisa berteriak. Ia tak bisa bernapas.
.
.
“—soo hyung! Hyung!”
Jongin panik, kedua lengan dengan refleks menarik bahu Kyungsoo dan membantu tubuh menggigil itu mengambil posisi duduk—refleks. Terbangun dalam satu sentakan cepat dan nyaris menjatuhkannya. Satu tangannya mencengkram pergelangan tangan kanan Kyungsoo—begitu kecil dan kurus dalam genggaman Jongin—sambil mencoba untuk menenangkan. Kyungsoo menolak sentuhannya beberapa detik yang lalu.
“Hyung, ini aku!” bentak Jongin tidak sabar, kali ini kesepuluh jemarinya merayap di kedua pipi Kyungsoo. Mengangkupnya hangat. “Tidak apa-apa, itu hanya mimpi buruk.”
Usahanya membuahkan hasil, Kyungsoo berhenti berontak. Sepasang mata bulatnya menatap Jongin lekat. Entah karena berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk, entah karena memastikan bahwa sosok di depannya ini adalah seorang Kim Jongin. Yang jelas, sepasang mata bulat Kyungsoo semakin melebar bahkan seperti mau keluar.
“Jo—ngin-ah,” Cicit Kyungsoo serak, sebagian nyawanya berhasil ia kumpulkan. Perlahan-lahan realita memenuhi benaknya. “Kau benar-benar—maksudku—Kim Jongin?”
Jongin tertawa renyah, geli mendengar pertanyaan polos yang Kyungsoo lontarkan. Jam sudah menunjukan waktu dini hari, untung saja para member lain sudah tertidur lelap—semoga saja. Jongin tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi seandainya semua tahu jika Kyungsoo mengalami mimpi buruk. Bisa-bisa dorm berisik dengan berbagai pertanyaan retoris.
Jongin menarik napas lega, dalam hati beruntung karena ia yang menemukan Kyungsoo di sofa ruang tengah, sedang terlelap meski siaran televisi tetap menyala.
“Ini aku, Hyung,” sahut Jongin pelan, mengambil tempat duduk di samping kanan Kyungsoo. “Hyung lihat? Ini aku.” Ulangnya dengan sabar, tidak lupa segaris senyum tipis tersungging di wajahnya.
Ya, Kyungsoo bisa melihatnya dengan jelas sekarang. Itu Kim Jongin. Dongsaeng yang baru saja menariknya dari alam mimpi buruk. Membangunkannya dari ketakutan. Demi Tuhan, Kyungsoo benar-benar bersyukur yang tadi itu hanya delusi semata.
“Gwenchana?” tanya Jongin, cemas.
Kyungsoo menarik napas berat, mengembuskannya kasar lalu menutupi wajah dengan kedua tangan sejenak. Mengusap keringat dingin yang sempat mampir di pelipisnya. Gila. Ini semua benar-benar membuatnya gila.
“Hyung—”
“Aku baik-baik saja,” kilah Kyungsoo kemudian, memaksakan seulas senyum. “Maaf, sepertinya aku membangunkanmu.”
Jongin menggeleng. “Tidak, kebetulan saja aku terbangun,” ia memberanikan satu tangannya menyentuh bahu Kyungsoo. Menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Jemari-jemarinya tidak tinggal diam, mengusap punggung Kyungsoo dengan gerakan menenangkan. Berharap rasa takut yang dirasakan Hyung kecilnya ini berkurang secara pelan-pelan. Mengirimkan rasa nyaman diam-diam.
Dan Kyungsoo tak menolak. Membenamkan wajahnya tanpa sadar di dada Jongin.
“Sepertinya aku dibiarkan terbangun untuk membangunkan Hyung dari mimpi buruk,” lanjut Jongin sambil tertawa kecil, “kalau saja aku tidak terbangun karena merasa haus—”
Merasa tak ada respon dari sosok di sebelahnya, Jongin menoleh. Terkejut begitu Kyungsoo kini sudah kembali terlelap. Seperti anak kecil, dengan mata terpejam tenang dan raut wajah yang damai. Tanpa kerutan atau mata ketakutannya. Napasnya stabil, tidak seperti terengah-engah ketika Jongin membangunkannya.
“Aigoo, Hyung,” Jongin menggelengkan kepala tidak percaya, gemas memandang wajah polos Kyungsoo di dekatnya. Ia ingin menggigitnya sekarang juga. “Cepat sekali tertidurnya.”
Jongin membawa tangannya yang bebas untuk mengusap poni jatuh yang menutupi paras Kyungsoo. Mengusap puncak kepalanya sayang, lalu memainkan ujung-ujung jemarinya di sekitar kening, turun hingga lekuk hidung, dan berhenti tepat di belahan bibirnya. Mendiamkan jari telunjuknya di sana sejenak, setelah itu menariknya kembali.
“Selamat tidur, Hyung. Kau tidak akan bermimpi buruk lagi. Aku janji.”
Malam itu Jongin menutupnya dengan satu kecupan singkat di dahi Kyungsoo.
Story 1 : Completed
A/N : Haloo, ceritanya ini mau dijadiin kumpulan ficlet dengan pairing Everyone x Kyungsoo XDD Hehehe~ jadi cerita pembuka diawali sama Kaisoo dulu *wink*
Terima kasih sudah membaca~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar